How to Download Instagram Photo Without Software or App
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
Agustus 14, 2016
Rating: 5
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
Agustus 14, 2016
Rating: 5
8 Macam Aksen Bahasa Minang Part II
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
Agustus 10, 2016
Rating: 5
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
Agustus 10, 2016
Rating: 5
8 Macam Aksen Bahasa Minang Part I
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
Agustus 09, 2016
Rating: 5
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
Agustus 09, 2016
Rating: 5
Padang Banyak Event
Malam ini saya ngumpul sama teman-teman Street Photography Festival 2015. Namun kami tidak membicarakan tentang kegiatan festival yang ingin diadakan tahun 2016 ini. Justru kami membahas event-event lain yang saat ini sedang rame-rame nya di Padang.
Banyak nya event yang diadakan di kota Padang tentu menghadirkan banyak keuntungan, namun juga banyak kerugiannya. Keuntungannya tentu saja, Padang semakin rame, pertumbuhan ekonomi mikro dan makro semakin berkembang, dan semakin banyak pekerjaan dadakan yang bisa dibuat untuk menyambut event-event ini. Kerugiannya, karena banyak jadwal yang bertubrukan maka tentu saja ada yang rame, ada yang sepi. Tapi saat ini saya melihat banyak bermunculan EO baru yang kreatif dengan metode dan cara-cara yang segar. Semoga semakin memacu kreatifitas pemain lama juga untuk memperbaharui metode nya.
Yok, kita cek satu persatu. Saya mulai dari akhir 2015, karena memang lagi rame-rame nya saat itu. Mungkin ada beberapa kekurangan, karena saya posting cuma yang saya tau. Kalau teman-teman punya rekomendasi event lain rentang akhir 2015 sampai sekarang, silahkan tulis di komentar.
Pertama ada event fotografi di tahun 2015 yaitu Street Photography Festival yang diadakan oleh Street Photo Hunters dan Gadgetgrapher Sumbar. Saya tau detail kegiatan ini karena saya ikut terlibat sebagai sekretaris kegiatan. Event ini adalah event Street Photography Festival pertama di Asia, jadi cukup berbangga. Di Eropa diadakan di London dan di Amerika diadakan di Miami. Walaupun belum mencukupi persyaratan sebagai sebuah festival, namun event ini sudah banyak diperbincangkan di berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia. Balapan juga sama India karena setau saya di India juga mau bikin di pertengahan tahun tapi akhirnya gabung sama London Street Photography Festival. Kemudian setelah event ini diadakan, daerah lain seperti Jakarta juga mau bikin. Wess kapan lagi kan, yang pertama justru datang dari Padang, biasanya kan Jakarta mulu.
Next, di awal 2016 ada dari dunia perfilman yang diadakan oleh komunitas Cinemama. Beberapa kru Cinemama juga menyempatkan hadir di acara Street Photography Festival Sumatera Barat. Mereka mengadakan pemutaran film dokumenter yang mereka buat bernama Ingatan Visual. Kurang lebih Ingatan Visual bercerita tentang budaya yang ada di Minangkabau, kebanyakan budaya baru dan juga seni tradisional yang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat. Ada Tari Kain, ada Salawat Dulang, ada Silek Lanyah, dll. Jika sebelum-sebelumnya Sumatera Barat lebih dikenal dengan event Pacu Jawi, Tari Pasambahan, Tari Piriang dan Pacu Itiak. Cinemama mencoba mengambil sesuatu yang berbeda. Cara penayangannya cukup unik. Ada beberapa layar yang disediakan, masing-masing menampilkan satu kegiatan dan ada sesi wawancara dengan pelakunya. Keren.
Selanjutnya ada Padang Sound Project (PSP) dan Padang Dance Movement (PDM) di tahun 2016. Saya sendiri kurang tau detail event nya seperti apa, yang saya tau dari temen-temen ya 'dugem rame-rame' karena menghadirkan banyak DJ, disk jokey ya bukan Dijah Yellow atau Titi DJ. Di Jakarta sebelumnya ada DWP, konsepnya saya liat hampir sama. Event ini sangat meriah, karena menurut statistik saat ini minat masyarakat masih seputar Musik & Komedi. Kalau sebelumnya banyak sekali kegiatan Color Run, sekarang malah gak keliatan lagi.
Event audisi-audisi seperti Uda Uni & Putri Hijab juga tidak ketinggalan. Sayangnya saya tidak mendapatkan banyak informasi tentang Uda Uni. Kalau Putri Hijab saya liat digital flyer nya di akun Info Sumbar. Karena acaranya banyak yang dempet, alhasil Putri Hijab aja cuma mendapatkan belasan kontestan. Padahal acara nya di Hotel Axana lho, sebelumnya di Bumi Minang sih, pindah tempat, tempatnya kan gede tuh. Ini kurang informasi tentang event lain yang serupa atau berlomba-lomba siapa yang bisa menjaring peserta lebih banyak ya. Yah walaupun begitu, mudah-mudahan sukses dan yang terpilih bisa bersaing lagi di Jakarta.
Kemudian ada lagi event musik yang menghadirkan beberapa musisi yang, eeee bagaimana ngomongnya ya, saya juga gak terlalu paham soalnya, beberapa teman bilang folk. Tapi yang saya tangkap adalah musisi yang membawakan lagu yang puitis. Contohnya ada Sore, Efek Rumah Kaca (ini udah lama saya denger lagu-lagunya, dari SMA malahan), kemudian yang terbaru ada Payung Teduh. Band pembuka nya ada temen-temen saya dari Goddbye John. Semangat men, main yang keren.
Satu lagi yang tak kalah menghebohkan adalah MNEK yang diakan pemerintah. Opo Mnek? Eh salah, harus nya opo mneh, aku gak paham bahasa jawa padahal. Tu nya cuma opo iki dan mangan, haha malah ngawur. Kegiatan Komodo 2016 yang berisikan berbagai kegiatan dengan empat acara internasional di Kota Padang dan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar akan dilangsungkan tanggal 12 hingga 16 April 2016. Ada 36 negara yang ikut, banyak ya. Yang jelas dari berbagai sumber yang saya dapat, ini adalah kegiatan latihan militer bersama. Ada Lomba Marandang dan Peresmian Tugu Merpati Perdamaian di Danau Cimpago dan Pantai Muaro Lasak oleh Presiden Jokowi. Kemudian ada juga kegiatan lain yaitu pertandingan bola pantai.
Saya jadi ingat film Battleship, ada latihan militer bersama yang diadakan Amerika Serikat, ada pertandingan bolanya juga yang dimenangkan Jepang. Tapi kemudian saat semua kapal perangnya latihan, muncul Alien menginvasi Bumi. Mudah-mudahan yang di Padang tidak terjadi hal seperti itu. Lagi enak-enak bikin rendang, muncul Alien minta rendang. Penduduk Bumi bilang, ini namanya rendang. Dan Alien menjawab, !@#$$%^&&*). Nah itu bahasa Alien, artikan sendiri. Akhirnya mereka berdebat kembali apa sebenarnya nama masakan ini, hingga terjadi Civil War. Tentukan pilihanmu, Team Bumi atau Team Alien.
Aduh ini kok semakin ngawur, ya sudah. Kita akhiri, semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda semua para pembaca. Abaikan omongan ngawur saya karena itu cuma sekedar candaan. Semoga saya tidak dicari oleh semua aparat yang membaca tulisan terakhir saya.
Terima kasih, bagi yang gak mau ketinggalan tulisan saya berikutnya, silahkan bookmark blog ini di browser kamu. Atau kamu juga bisa add to circle bagi yang suka buka google plus. Jangan lupa, seperti yang saya tuliskan tadi. Kamu juga bisa berbagi info event yang tidak ada di tulisan ini di kolom komentar. Mudah-mudahan saya bisa lanjutkan tulisan ini ke part II part III dan seterusnya. Sampai jumpa.
Padang Banyak Event
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
April 12, 2016
Rating: 5
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
April 12, 2016
Rating: 5
Street Photography, Egoisme dan Etika Part I
Selamat malam
Malam ini saya mau membahas tentang street photography (lagi), namun tidak seperti beberapa tulisan saya sebelumnya di blog ini, di blog street photography festival atau bahan workshop. Saya ingin mengangkat sesuatu yang berbeda diluar teknis ataupun komposisi. Kali ini agak lebih emosional karena lebih kepada pribadi seorang street photographer.
Saat pertama saya menggeluti dunia fotografi, dalam benak saya yang terpikir adalah yang penting suka dulu, baru kemudian kita menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi tentang ilmunya. Namun banyak yang merasa bahwa fotografi justru menjadikan dirinya terpaku dengan kehidupan sosial nya, pergaulan, gengsi, dll. Kita merasa diri kita berubah menjadi orang lain, berubah menjadi apa yang 'kebanyakan' inginkan, berubah menjadi power ranger. Bukan ya, yang terakhir tadi saya cuma mengada-ada.
Saya berani mengatakan diri saya saat ini adalah seorang hobiis street photography karena genre ini membuat saya menjadi diri saya sendiri. Karya street photography seseorang selalu mencerminkan pribadinya, keluh kesahnya, pandangannya terhadap dunia, dan sebangsanya. Saya tak menampik bahwa genre lain juga 'seperti itu', mencerminkan pandangan fotografernya, tapi street photography saya rasa adalah yang paling pas untuk mewakili itu semua.
![]() |
| Kurniadi Ilham - Padang (2015) |
Beberapa waktu yang lalu saya membaca satu buku berjudul Kisah Mata karangan Seno Gumira. Saya baru membaca sebagian kecil saja tapi saya sudah mendapatkan banyak pelajaran. Ada dua kalimat yang saya suka, akan saya kutip disini. Yang pertama adalah "Kalimat fotografer Alfred Stieglitz (1864-1946) menunjuk kepada suatu asumsi: Fotografi dipercaya tanpa syarat sebagai pencerminan kembali realitas". Yang kedua adalah "Dunia dalam pandangan realisme terwakili oleh konsep Karl R. popper tentang Tiga Dunia. Terdapat Dunia I yang merupakan kenyataan fisik dunia ini, Dunia 2 yang merupakan dunia dalam diri manusia, dan Dunia 3 adalah hasil ciptaan manusia, yang tentu saja adalah interaksi antara Dunia 1 dan Dunia 2".
Realisme Popper ini bisa diandalkan sebagai menerima fotografi yang mendeskripsikan dan memberikan eksplanasi tentang dunia, dengan bantuan teori. Artinya, teori bukanlah penjelasan final tentang realitas, tetapi secuil demi secuil mendekati apa yang disebut kebenaran. Jadi dalam konteks Popper, fotografi betapapun adalah obyektif, bisa dipisahkan dari subjek-subjek pendukungnya. Ketika menjadi obyektif maka fotografi menjadi solusi tentatif.
![]() |
| Kurniadi Ilham - Padang (2014) |
Kata-kata tentatif seakan menjadi kunci untuk kita mempertanyakan sebuah obyektifitas. Misalnya satu foto yang memiliki 'sense of tragedy' dan disekelilingnya ada banyak orang yang sedang bersuka-ria. Akan banyak pendapat yang muncul tentang foto seperti ini, positif, netral, atau negatif. Well, disinilah peran fotografer, bukan hanya untuk menangkap sebuah realita dan menyajikannya sesuai dengan keadaan aslinya, tapi ia bisa memasukkan ide nya kesana. Apakah untuk membiarkan audience untuk berpikir atau menyajikan ceritanya secara detail?
Saya baru saja mencari definisi egoisme di wikipedia, kira-kira seperti ini. "Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri". Bagi saya sendiri, egoisme adalah menunjukkan pandangan pribadi kita. Menguntungkan diri sendiri atau menguntungkan orang banyak, bagi saya itu tidak ada masalah.
We see what we want, dan itu saya sajikan ke dalam karya. Jika orang melihat karya saya, maka yang sebenarnya ingin saya perlihatkan adalah, ini adalah pandangan saya terhadap dunia, kalau pandanganmu berbeda dengan saya, itu terserah kamu, kamu adalah kamu, saya adalah saya. Gila, saya ngomong udah kayak peran antagonis aja ya. Huahaha sana panggil ibu peri *evil. Maaf saya menceritakannya jadi berasa jahat ya, tapi sebenarnya hal ini baik. Menjadi diri sendiri tentu lebih baik daripada hidup dalam kepura-puraan.
![]() |
| Kurniadi Ilham - Padang Panjang (2014) |
Lantas bagaimana dengan etika? Walau kita melihat dengan cara pandang kita, namun kita juga harus memperhatikan situasi sekitar. Misalnya saya sedang berada di sebuah pasar tradisional, dan saya memotret kondisi disana. Ternyata ada yang merasa kurang nyaman, seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya. Disini etika kita ditanya, saya memilih untuk pindah lokasi, atau tidak menggunakan kamera sama sekali. Kalau masih memilih tetap disana dengan kondisi seperti itu, dan kamu tidak peka, maka saya boleh bilang kamu adalah orang yang etika nya kurang.
Street photography adalah fotografi yang bercerita tentang situasi di ruang publik, banyak hal terjadi disana. Fotografer yang ingin mengabadikan momen di ruang publik ini boleh memilih untuk merekam sesuai dengan realita nya, bisa juga memperlihatkan pada audience tentang pandangannya, atau ingin merubah kondisi tersebut dalam sebuah foto.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya, masih ada part II nya. Jadi bagi yang gak mau ketinggalan, ikuti terus blog saya, add to circle atau subscribe.
Street Photography, Egoisme dan Etika Part I
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
April 06, 2016
Rating: 5
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
April 06, 2016
Rating: 5
Menelusuri Sejarah Fotografi Jalanan
Tulisan asli oleh Irma Chantily
Direpost dan disadur oleh Kurniadi Ilham & Maklum Foto
=======================================
[Temukan juga tulisan saya di https://maklumfoto.wordpress.com/]
Street photography telah jadi topik hangat beberapa tahun belakangan ini. Semakin banyak fotografer, baik yang profesional maupun yang amatir, memotret jalan-jalan dan orang- orang di sekitar mereka. Ketenaran pendekatan ini tak bisa dipisahkan dari kepopuleran internet dan media sosial, tempat setiap orang berhak memamerkan jurnal visual keseharian mereka dan orang lain punya hak yang sama untuk memuja atau menghujat karya-karya tersebut.
Street photography telah jadi topik hangat beberapa tahun belakangan ini. Semakin banyak fotografer, baik yang profesional maupun yang amatir, memotret jalan-jalan dan orang- orang di sekitar mereka. Ketenaran pendekatan ini tak bisa dipisahkan dari kepopuleran internet dan media sosial, tempat setiap orang berhak memamerkan jurnal visual keseharian mereka dan orang lain punya hak yang sama untuk memuja atau menghujat karya-karya tersebut.
Kemunculan dan ketenaran beberapa situs yang didedikasikan untuk street photography, seperti Invisible Photographer Asia dan Sidewalker Asia, juga turut membantu penyebarluasan gaya ini di masyarakat. Para street photographer—bolehlah kita sebut mereka fotografer jalanan—jadi punya ruang khusus untuk bersanding dengan rekan- rekannya dari seluruh penjuru dunia. Ruang yang bukan untuk snapshot, bukan pula dokumenter, jurnalistik atau fotografi seni.
Layaknya sesuatu yang “baru”—dan seakan tak dikenal sebelumnya—banyak kalangan yang kemudian sibuk mencoba merumuskan apa dan bagaimana sebetulnya fotografi jalanan—dan dengan demikian, apa yang tidak termasuk ke dalamnya. Coba saja pergunakan telusuri arti kata kunci street photography di jagat maya. Banyak sekali arti akan ditawarkan, semuanya menyodorkan istilah dan aturan yang “seharusnya” diterapkan ketika hendak mempraktikkan fotografi jalanan. Padahal, ibarat lagu lama aransemen baru, gaya dan pendekatan ini bukanlah sesuatu yang baru muncul ketika teknologi kamera dan internet sudah semaju sekarang.
Perkembangan praktik dan pendekatan fotografi jalanan—layaknya praktik dan pendekatan fotografi yang lain, tak bisa dipisahkan dari sejarah dan kemajuan teknologi kamera itu sendiri. Kedua hal ini akan saling mempengaruhi, mendukung dan bereaksi— saling berkelindan hingga ke bentuk fotografi jalanan yang lazim kita temui dewasa ini.
Tulisan ini hendak mencoba menjabarkan peranan rantai sejarah dan perdebatan yang mengiringi tumbuh-kembang fotografi jalanan ke dalam dua bagian yang terpisah. Bagian yang pertama akan melihat para fotografer yang dianggap telah menghasilkan karya fotografi jalanan sejak abad ke-19. Bagian selanjutnya bermaksud menguraikan beberapa pokok perdebatan yang sering kali terbit ketika membicarakan praktik fotografi jalanan.
Fotografer Keliling Monas dan Tradisi Awal Street Photography
Pernah bertemu orang-orang yang berkeliling dan menawarkan jasa fotografi kepada anda di Monas? Mereka sudah beroperasi di Monas sejak 1970-an. Jika mau memiliki tanda bukti atas kunjungan anda ke sini, anda bisa memanfaatkan jasa mereka. Berposelah di monumen kebanggaan Soekarno itu; berlagak seperti anda sedang menyentuh, memeluk, atau mendudukinya. Sang fotografer akan memotret anda—memanfaatkan perspektif, kedalaman, serta cara pandang lensa. Hasil potret bisa langsung dicetak untuk anda bawa pulang. Sekitar lima tahun yang lalu, anda tinggal merogoh kocek sebesar sekitar Rp15.000 dan kenang-kenangan itu akan menjadi milik anda selamanya.
Yang dilakukan oleh para fotografer Monas itulah kira-kira yang disebut Colin Westerbeck dalam buku Bystander: A History of Street Photography (1994) sebagai awal mula pendekatan ini. Fotografer jalanan adalah orang-orang yang berada di ruang publik dengan kamera dan menawarkan jasa fotografi kepada orang yang lalu-lalang . Namun menolehlah lagi ke belakang, dan kita akan menemukan sesungguhnya gaya fotografi jalanan sudah dipraktikkan jauh sebelum kita banyak berdebat tentang definisi dan aturan yang mengikatnya di abad ke-21 ini. Jauh ke belakang, hingga kita bisa menemukan acuan visual fotografi jalanan dari karya-karya lukisan.
Kelahiran fotografi di Eropa bersamaan dengan Revolusi Industri, ketika metode kerja manusia perlahan mulai terotomatisasi dan kemajuan teknologi serta beragam penemuan baru di bidang optikal dan kimiawi semakin memudahkan hidup manusia. Masyarakat abad ke-19 menganggap mereka tengah berada di titik puncak kemajuan teknologi. Demikianlah kota-kota baru bermunculan bersamaan dengan globalisasi dan urbanisasi. Lanskap berubah. Masyarakat yang anonim tinggal bersama, dibatasi dinding, dan berpapasan hanya di ruang publik.
Realitas yang baru itulah yang dengan semangat diabadikan menggunakan fotografi. Kemampuan medium ini untuk merekam momen dengan cepat telah melampaui apa yang pernah dibayangkan manusia—yang selama ini tergantung pada para pelukis dan karya mereka untuk merepresentasikan sekeliling kita lewat citraan visual. Dengan cepat fotografi—dan fotografer—memanfaatkan momentum itu; mereka mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka: orang, bangunan, lanskap, interaksi manusia dengan sesama manusia serta interaksi manusia dengan lingkungannya.
Hubungan fotografer dengan kota memang selalu erat. Hampir semua jagoan fotografi kaliber dunia yang kita kenal pernah memotret kota tempat mereka tinggal dan jalan-jalan yang mereka susuri. Tak heran pula jika hasil penelusuran atas sejarah fotografi akan memperlihatkan bahwa foto-foto yang pertama diambil adalah yang memperlihatkan jalanan, atau yang diambil di jalanan. Ingatlah daguerreotype buatan Louis Daguerre (1787-1851) Boulevard du Temple (1938). Karya itu adalah salah satu gambar pertama yang memperlihatkan jalanan, sekaligus mengabadikan orang di dalam sebidang foto.
![]() |
| Louis Daguerre, Boulevard du Temple (1938) |
Berangkat dari asal kata dan sejarah yang meliputi gaya ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa fotografi jalanan adalah foto-foto yang dihasilkan di jalanan dan yang merekam kehidupan orang lalu-lalang. Tentu saja definisi sangat sederhana ini kemudian mengalami perkembangan dan perdebatan karena adanya perubahan realitas sosial dan perkembangan teknologi kamera itu sendiri. Kini fotografi jalanan tidak lagi melulu berarti diambil di jalanan, ia bisa jadi diambil di ruang publik mana pun—pantai, taman, kafe, mal atau tempat terbuka mana pun lainnya yang mengizinkan orang-orang yang tak saling kenal mengaksesnya secara bersamaan.
Dalam bentuknya yang paling dasar, fotografi jalanan misalnya telah dilakukan oleh Eugene Atget (1857-1927) pada awal abad ke-20. Karya-karya Atget atas pendokumentasian kota Paris tua yang ekstensif bisa kita kenal berkat fotografer jalanan lainnya, Berenice Abbott (1898-1991). Abbott kemudian melakukan hal yang sama di kota tempat ia berasal, New York. Koleksi Atget di Paris dan Abbott di New York memperlihatkan kepada kita pengamatan atas detail desain interior yang kaya dan lanskap kota beserta bangunannya. Karya kedua fotografer ini tidak hanya memperlihatkan bangunan dan bentuk arsitektur, tapi juga konteks tempat bangunan itu berada. Mereka memotret jalanan, ruang dan orang- orang yang menempatinya. Melalui foto-foto Atget jugalah, kelompok surrealis seakan menemukan visi mereka tentang kota idaman; labirin urban tentang memori dan harapan.
Lain halnya dengan Robert Doisneau (1912-1994). Fotografer ini dikenal karena kefasihannya mendokumentasikan kehidupan di seputar kafe-kafe di Paris. Sebagai fotografer lepas pada 1950-an, Doisneau berhasil merekam momen dan warna kehidupan kota tersebut, sering kali dengan jepretan yang jenaka dan penuh empati. Foto-fotonya mengalun ringan, seringan langkahnya ketika menyusuri dan mengamati pasangan muda berciuman, pelukis melukis di jembatan, atau perempuan muda yang menikmati segelas anggur merah.
![]() |
| Robert Doisneau, Un Regard Oblique (1948) |
Mungkin di antara sekian banyak fotografer jalanan yang telah menorehkan perannya dalam perkembangan gaya ini, Henri Cartier-Bresson adalah nama yang paling dikenal. Dengan “decisive moment”-nya, Bresson dikenal luas atas karya-karyanya yang dinamis, puitis dan penuh pertimbangan komposisi yang seimbang dan sering kali serupa mimpi. Lebih ingin dianggap sebagai fotografer surrealis daripada label lainnya, Bresson kerap memanfaatkan perspektif dan unsur dua dimensi dari foto untuk memberikan cara pandang yang khas tentang apa-apa yang terjadi di jalanan.
Jika kita lihat karyanya yang dibuat di Naples (1960), kita akan melihat bagaimana dengan cermat Bresson membuat subyeknya seakan berjalan menuruni pegangan tangga. Atau bagaimana dengan mengamati fotonya yang mungkin paling sering dijadikan rujukan, kita bisa melihat dua sosok yang melompat, menghasilkan komposisi dan keseimbangan yang sempurna. Foto-foto Bresson yang lain juga kerap memanfaatkan kekuatan bayangan dan komposisi terang-gelap—menjadikan subyek yang ia foto kurang penting di hadapan bayangan dan menghadirkan bentuk geometri yang kuat.
![]() |
| Henri Cartier-Bresson – France (1932) |
Perkembangan teknologi kamera juga telah mengizinkan para fotografer menjelajahi cara pengambilan gambar yang berbeda dan merekam kota mereka dengan sapuan pandang yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kredo “Decisive moment”-nya Bresson mengandaikan adanya momen puncak dalam sebuah keadaan, ketika setiap elemen dalam bidang foto akan bergerak dan menempati posisi yang paling sempurna—momen puncak yang diakhiri ketika sang fotografer menekan tombol shutter.
Tanpa kehadiran kamera yang ringan, atau film yang memiliki kepekaan cahaya yang cukup tinggi, momen yang berkelebat bisa jadi terlalu sulit untuk diabadikan. Kemajuan teknologi kamera juga menjelmakan aplikasi teknis memotret yang dilakukan oleh Alexander Rodchenko (1891-1956), menghadirkan sudut pandang yang tak pernah terlihat sebelumnya. Rodchenko dikenal atas karya-karya foto yang berani dan tidak biasa. Ia memanfaatkan latar belakangnya sebagai pematung, pelukis dan desainer grafis, untuk menjelajahi beragam perspektif dan bentuk geometri untuk menghasilkan karya yang kuat secara visual dan berkesan modern dengan perspektif yang ekstrem.
Perkembangan teknologi kamera juga telah mengizinkan para fotografer menjelajahi cara pengambilan gambar yang berbeda dan merekam kota mereka dengan sapuan pandang yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kredo “Decisive moment”-nya Bresson mengandaikan adanya momen puncak dalam sebuah keadaan, ketika setiap elemen dalam bidang foto akan bergerak dan menempati posisi yang paling sempurna—momen puncak yang diakhiri ketika sang fotografer menekan tombol shutter.
Tanpa kehadiran kamera yang ringan, atau film yang memiliki kepekaan cahaya yang cukup tinggi, momen yang berkelebat bisa jadi terlalu sulit untuk diabadikan. Kemajuan teknologi kamera juga menjelmakan aplikasi teknis memotret yang dilakukan oleh Alexander Rodchenko (1891-1956), menghadirkan sudut pandang yang tak pernah terlihat sebelumnya. Rodchenko dikenal atas karya-karya foto yang berani dan tidak biasa. Ia memanfaatkan latar belakangnya sebagai pematung, pelukis dan desainer grafis, untuk menjelajahi beragam perspektif dan bentuk geometri untuk menghasilkan karya yang kuat secara visual dan berkesan modern dengan perspektif yang ekstrem.
![]() |
| Alexander Rodchenko, Street |
Melalui sudut pandang yang sama sekali baru, karya-karya Rodchenko mencerminkan semangat revolusi Rusia dan Konstruksivisme yang ketika itu sedang berkembang: menggunakan aspek baru dalam berkesenian untuk mendapatkan hasil yang revolusioner.
Tentu saja, banyak fotografer lainnya yang patut disebut dalam kerangka fotografi jalanan. Dari Amerika dan Eropa kita mengenal karya-karya yang dihasilkan oleh Robert Frank, Diane Arbus, Jacob Riis, Walker Evans. Dari Jepang, Daido Moriyama dan Kohei Yoshiyuki memperlihatkan kepiawaiannya sebagai fotografer yang tak kasat mata di ruang publik dan menelanjangi kehidupan masyarakat Jepang. Semuanya berawal dari praktik para fotografer untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari yang terjadi di jalanan, di ruang publik—mendokumentasikan sejarah, mengabadikan yang sesaat sebelum kemudian hilang dimakan waktu.
Layaknya genre dan pendekatan fotografi yang lain, definisi fotografi jalanan dan bagaimana gaya ini dipraktikkan oleh para fotografer juga terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Serupa definisi fotografi dokumenter; awalnya hanya berarti mendokumentasikan, lalu akademisi mulai mengimbuhi genre ini dengan pesan sosial atau narasi besar lainnya, dan terus berubah hingga kini fotografi dokumenter bisa bercerita tentang bragam perspektif, baik narasi besar atau pun narasi kecil yang lebih personal.
Tak berbeda dengan fotografi jalanan. Banyak jenis karya dan pendekatan yang bisa dianggap sebagai fotografi jalanan, meski tak semuanya adalah fotografi jalanan. Memotret dengan seketika, snapshot, bisa jadi adalah salah satu bentuk dari fotografi jalanan. Namun tentu tak semua snapshot adalah fotografi jalanan. Jika saja kita sedikit membebaskan diri dari kota-kotak genre fotografi, kita bisa melihat bahwa fotografer yang ingin mengabadikan kota yang tengah berubah dan bagaimana masyarakat sekeliling mereka hidup adalah manifestasi dari fotografi jalanan. Begitu pula dengan para fotografer yang menawarkan jasa fotografi kepada orang di ruang publik. Tak ketinggalan adalah para fotografer yang kuat dalam opini ideologi dan menggunakan fotografi sebagai medium berekspresi.
Perdebatan yang Menghangat
Hal lain yang selayaknya turut dicermati ketika membicarakan soal fotografi adalah konteks konotasi yang dihasilkan dari pembuatan sebuah foto—atau bagaimana cara memotretnya; candid atau tidak, sudut pandang dan fokus, dan lain sebagainya. Selain itu, perdebatan juga biasa melibatkan tempat foto diambil, subyek dan obyek yang “seharusnya” ada, serta aspek teknis lainnya, seperti jenis kamera yang digunakan, penggunaan flash, editing gambar dan lain-lain.
Sudah tentu, perdebatan tentang soal-soal tadi selalu membuat perkembangan medium terkait jadi lebih dinamis. Begitu pula dengan fotografi. Sejak pertama kali muncul, kehadiran fotografi sudah mengundang kontroversi—baik dari kalangan di luar praktisi fotografi, atau pun sesama fotografer yang berbeda “kubu”. Misalnya saja perdebatan tentang apakah sebuah foto itu subyektif atau obyektif. Jika mengikuti dalil John Berger dalam bukunya yang bertajuk Another Way of Telling, maka fotografi sesungguhnya mengutip realitas—bukan menerjemahkannya seperti lukisan. Foto, yang dihasilkan dalam sepersekian detik menggunakan refleksi cahaya atas benda-benda, adalah gambar visual tanpa kode, pengalaman atau pun kesadaran.
Contoh lain adalah perdebatan laten di kalangan fotografer jurnalistik dan dokumenter: jika fotografi adalah penghadir realita, maka sejauh mana hasil karya foto boleh dimanipulasi? Dulu foto dokumenter harus diberi bingkai hitam sebagai tanda bahwa segala sesuatu yang terfoto sesuai asli dan tidak ada yang diubah dengan sengaja. Menggunakan flash juga tidak diizinkan karena dianggap memberikan elemen tambahan pada realitas yang hendak ditangkap.
Soal menggunakan flash ini juga turut menjadi salah satu butir yang didiskusikan dalam ranah fotografi jalanan. Ada kelompok yang menolak penggunaan flash, ada yang mengamini saja. Child with Toy Hand Grenade in Central Park karya Diane Arbus (1923-1971) jelas dibuat menggunakan flash. Cahaya matahari yang jatuh ke arah lensa akan menutupi wajah si anak jika Arbus tidak menggunakan flash. Praktik yang sama juga dilakukan oleh Jacob Riis (1849-1914), fotografer jurnalistik Amerika Serikat pertama. Ia menggunakan flash powder untuk membantu pemotretan di tempat-tempat yang biasa ia datangi: ruangan kumuh dan gelap, bar tak berjendela dengan langit-langit rendah, kamar sempit yang ditempati banyak orang, dan jalan-jalan yang muram tempat berdiamnya kelompok masyarakat miskin di New York.
![]() |
| Diane Arbus, Child with Toy Hand Grenade in Central Park, New York City (1962) |
Liz Wells, editor buku Photography: A Critical Introduction, mengatakan bahwa melakukan cropping dan mengubah warna foto dokumenter bisa membuat anda kehilangan kredibilitas sebagai seorang fotografer. Hingga kini perdebatan itu masih berlanjut dan justru sempat menghangat ketika Photography menawarkan jasa untuk sedikit “memperbaiki” warna foto secara digital. Padahal, menurut Victor Burgin, manipulasi adalah esensi dari fotografi. Para fotografer adalah orang-orang yang memanipulasi aspek fisik dan produksi foto: kamera, film, cahaya, obyek dan manusia. Semua itu dilakukan fotografer untuk mereproduksi citraan dunia sebagai “obyek kontemplasi visual”.
Subyektivitas dalam fotografi dan kesadaran “memanipulasi” tertuang dalam gaya fotografi jalanan modern yang berkembang di Amerika pada 1950-an. Ketika itu, representasi visual yang terbut adalah yang menawarkan bentuk visual yang spontan dan langsung, subyektif, serta mampu memperlihatkan emosi suatu zaman. Bantahan Robert Frank (lahir 1924) atas kredo “decisive moment”-nya Bresson turut berperan dalam perkembangan konsep fotografi jalanan yang baru. Bagi Frank, semua momen adalah puncak dan bernilai, ditandai dengan keputusan seorang fotografer untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamerany. Fotografi jalanan dianggap bertujuan mencari momen acak di ruang publik, menemukan ketakterdugaan di tengah komposisi yang tersusun rapi.
![]() |
| Robert Frank, Political Rally (1956) |
Menemukan ketakterdugaan dengan komposisi dan jukstaposisi yang kuat di ruang publik bisa menghasilkan foto jalanan yang menarik. Sulit, memang. Tapi justru di situlah letak tantangan para fotografer jalanan dewasa ini. Menyeimbangkan semua elemen tadi, dan menghindari citra yang klise—semua itu untuk menemukan acuan visual termutakhir bagi fotografi jalanan.
Mempelajari sejarah dan menoleh ke belakang bukanlah semata usaha bernostalgia dan menumbuhkan romantisme. Masa lalu bisa mengajarkan kita akan perjalanan panjang praktik fotografi jalanan, bagaimana ia berkelindan dengan medium lain, situasi sosial, politik, serta kemajuan teknologi kamera. Saling mempengaruhi di antara semua aspek tadi pada akhirnya akan menerbitkan referensi visual dan pewacanaan fotografi yang terus menerus terbarui.
==========================================================
Profil Irma Chantily
Irma Chantily lahir di Jakarta, 1985. Ia adalah penikmat fotografi, meski sama sekali bukan fotografer. Ia beberapa kali menulis tentang fotografi di media massa cetak dan online serta terlibat dalam produksi pameran foto atau seni rupa—baik sebagai kepala proyek, kurator, asisten kurator, penulis atau pun editor. Walau belum cukup sering atau pun mahir, Irma juga gemar melibatkan diri pada beberapa proyek penelitian fotografi Indonesia. Bersama dua rekannya, ia membuat sejarahfoto.com, sebuah inisiatif untuk mencoba memetakan sejarah fotografi Indonesia. Pada 2011, Irma bergabung dengan Komunitas Salihara dan satu tahun kemudian ia menjadi manajer arsip dan dokumentasi—sambil terkadang tetap memenuhi panggilan untuk menjadi pengajar lepas di Program Studi Fotografi, Institut Kesenian Jakarta.
==========================================================
Sumber
Gerry Badger, Theory : The Indecisive Moment: Frank, Klein and “Stream-Of-Consciousness” Photography (2004). http://www.americansuburbx.com
Liz Wells, ed., Photography: A Critical Introduction (2004), 100
dan berbagai sumber yang relevan
Menelusuri Sejarah Fotografi Jalanan
Reviewed by Blog Adiya Hizaki
on
April 06, 2016
Rating: 5
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
















